Kamis, 14 Juni 2012

Sang Pembebas : Salahudin Al Alyyubi I

Siapa yang tak kenal dengan nama kota Jerussalem. Kota yang melahirkan banyak orang-orang militan dalam perjuangan Islam ini ternyata punya kisah panjang dalam sejarah. Masjidil Aqsa, kiblat pertama umat Islam pun ada di kota mulia ini, sebelum akhirnya berpindah ke tanah suci Makkah, menghadap Ka'bah. Dari kota ini pula Rasulullah memulai perjalanan Isra' Mi'r-ajnya ke Sidratul Muntaha. Dalam sejarah keagamaan, kota ini juga dianggap suci oleh tiga agama samawi. Bagi umat Islam sudah jelas mengapa kota ini dianggap suci, karena masjid Aqsa persinggahan Rasulullah ada di sana. Bagi umat Nasrani, kota ini juga dianggap bersejarah karena berdekatan dengan kota Bethlehem tempat lahir Nabi Isa. Sedang bagi kaum Yahudi, kota ini diper-caya sebagai tempat berdirinya istana Nabi Sulaiman zaman dahulu kala. Haikal Sulaiman, begitu mereka menyebutnya. Jauh sebelum Shalahuddin Al Ayyubi lahir, kota ini makmur dalam daulat pemerintahan Islam. Khalifah Umar bin Khattab berhasil merebut kota ini dengan damai dan hampir tanpa pertumpahan darah. Uskup Agung Sophronius pemegang tampuk kekuasaan Jerussalem kala itu, meminta Khalifah Umar mengambil alih kekuasaan. Berabad-abad lamanya Jerussalem menjadi kota dambaan. Tak ada hak yang dilanggar, dan tak satupun kewajiban ditinggalkan tanpa mendapat sangsi. Semua peraturan berjalan dengan adil, penduduk makmur dan sejahtera. Semua pemeluk agama bebas melakukan iba-dahnya masing-masing tanpa khawatir diganggu atau ditindas kaum mayoritas. Kaum Nasrani seluruh dunia bebas keluar masuk Jerussalem untuk melakukan ibadah agama mereka di Bethlehem, begitu juga orang-orang Yahudi. Pendeknya tak ada satu pun yang diganggu. Bahkan tak jarang orang-orang Nasrani dari Eropa datang dengan jumlah yang besar dalam iring-iringan panjang bersenjata lengkap bak pasukan perang. Bak kata pepatah, dikasih hati minta jantung, diberi kebeba-san mereka kian kurang ajar. Dengan rombongan besar, kaum nasrani kerap kali mencelakai penduduk dan orang-orang muslim yang kebe-tulan mereka temui di perjalanan. Tercatat pada tahun 1064, 7000 orang yang bergabung dalam rombongan untuk beribadah itu telah menyerang orang-orang Arab dan Turki. Lebih jauh dari itu, para pemimpin agama mereka malah mengobarkan semangat untuk membebas-kan Jerussalem dari pemerintatah Islam pada kemudian. Adalah Patriach Ermite, seorang pendeta yang getol sekali menyebarkan hasutan dan tak henti-hentinya memprovokasi orang Nasrani untuk membalas dendam serta merebut kembali kota Jerussa-lem. Dengan menunggang keledai dan memikul salib besar ia menje-lajah Eropa dan mengabarkan, bahwa di Jerussalem umat Nasrani telah dianiaya. Dengan pakaiannya yang compang-camping ia berk-hutbah dari gereja ke gereja, dari satu kota ke kota lainnya, bahwa kubur Nabi Isa telah diinjak-injak dan umat Kristen telah dihina oleh muslim Jerussalem. Kontan saja, mendengar kabar bohong yang demikian, semangat juang kaum Nasrani membela agamanya berkobar dengan segera. Tak peduli perampok, tak peduli pencuri semua mengangkat senjata untuk membela. Dana-dana dikumpulkan, senjata-senjata diasah tajam dan perang suci pun diumumkan. Lebih dari itu, Paus Urbanus II mengumumkan akan memberikan ampunan dosa bagi siapa saja yang ikut berperang. Siapa yang tak ingin ikut berperang jika jami-nannya terbebas dari dosa turunan yang selama ini mereka emban. 15 Agustus 1095 adalah hari yang ditentukan untuk memberang-katkan pasukan Salib ke Timur Tengah oleh Paus Urbanus II. Lagi-lagi pendeta Patriach Ermite menghasut rakyat, "Hari yang diten-tukan terlalu lama," katanya. Ia tak sabar untuk segera menghan-curkan Islam. Akhirnya dengan membawa 60.000 pasukan, Pendeta Ermite memimpin penyerbuan. Di tengah jalan, kaum tani dan orang awam datang bergabung, dan hampir semua tempat yang dilalui pasukan itu selalu menyumbangkan tenaga-tenaga mudanya untuk berperang suci. Sehingga jumlah pasukan yang menyerbu lebih awal sebanyak membengkak menjadi 200.000 orang. Sepanjang perjalanan mereka membuat huru-hara, pasukan dii-zinkan untuk merampok, memperkosa dan membunuh orang yang mereka temui, dimana saja. Meski demikian sepanjang jalan pasukan salib selalu dieluk-elukan. Tapi ketika mereka tiba di Hongaria dan Bulgari, sambutan yang mereka tak seperti biasanya. Penduduk bersikap biasa saja, bahkan acuh pada mereka. Hal ini ternyata membuat sebagian besar pasukan salib kecewa dan marah, lalu menyerang penduduk Hongaria, juga Bulgaria. Tapi penduduk setem-pat tak tinggal diam, mereka pun angkat senjata melakukan perla-wanan, peperanganpun tak terelakkan. Dari jumlah 200. 000 orang, hanya 70.000 saja yang tersisa untuk melanjutkan perjalannya menuju Timur Tengah, sedang yang lainnya menemui nasib binasa. Ekspedisi pasukan salib pertama yang dipimpin oleh sang pendeta yang tak tahu strategi kancah laga, akhirnya tumpas tak tersisa. Hal ini kian membuat pasukan salib yang belum berangkat kian membara dendamnya. Pasukan salib kedua pun tercipta, dengan dipimpin oleh anak-anak Raja Godfrey dari Perancis, mereka mengumpulkan pasukannya di Konstantinopel. Bak banjir bandang mereka datang menyerbu wilayah-wilayah yang berada dalam daulat pemerin-tahan Islam. Daerah-daerah Islam yang memang tak memiliki pasukan perang dalam jumlah besar, hampir dengan mudah mereka kalahkan. Setelah bertempur sekian lama dan menghadapi pejuang-pejuang Islam yang pantang menyerah, akhirnya pasukan salib berhasil juga merebut kota Jerussalem dengan banjir darah. Pertengahan bulan Juli tahun 1099 kota Jerussalem mutlak dikuasai pasukan salib yang membabi buta. Seperti kerasukan setan mereka membunuhi siapa saja yang beragama Islam. Tak peduli anak-anak, orang tua dan perempuan, asal Islam tak ada ampunan. Tak hanya itu mereka juga membantai kaum Yahudi dan Nasrani yang tak mau bergabung dengan pasukan salib. Mereka telah lupa daratan, berperang dengan biadab. Seorang sejarawan Perancis dalam sebuah karyanya menuliskan, "Orang-orang Kristen pada tahun 1099 saat penaklukkan kota Jerus-salem membantai orang-orang Islam di jalan-jalan dan di rumah-rumah. Jerussalem tak punya tempat lagi bagi orang-orang yang kalah." Bersambung...(her)

Misteri Injil Kuno Barnabas Mengguncang Dunia

Munculnya kitab kuno di Turki pada Februari 2012, yang diyakini sebagai Injil Barnabas, membuat perdebatan di dunia internasional makin panas. Namun, perdebatan masih berkutat soal klaim benar tidaknya kitab itu sebagai Injil Barnabas. Adu pendapat belum masuk ke ranah isi kitab yang memang belum diterjemahkan oleh pemerintah Turki. Kepala Direktorat Jenderal Museum dan Aset Budaya Turki, Zulkuf Yilmaz, mengakui memang ada satu kitab kuno yang masuk ke Museum Etnografi Turki pada Februari 2012. Kitab itu diberikan militer ke museum, setelah selama 12 tahun tersimpan di dalam lemari besi di kantor Pengadilan Tinggi Ankara. Zulkuf berjanji, direktoratnya akan segera menganalisis isi kitab itu. Rencananya, kitab setebal 40 lembar itu akan dikirim ke Laboratorium Pusat Bahasa Turki untuk diteliti lebih lanjut. “Di laboratorium itu akan dianalisa dan diterjemahkan isinya,” ungkap Zulkup kepada televisi Hurriyet. Injil Barnabas versi Turki ini ditulis di atas kulit hewan yang berwarna cokelat kehitaman. Penulisnya menggunakan tinta dari emas dan isinya dalam bahasa Aramaic, bahasa yang diperkirakan bahasa ibu Yesus Kristus. Umum kitab ini diduga mencapai 1.500 tahun. Ada tiga versi Injil Barnabas, yakni Injil Barnabas berbahasa Italia, Injil Barnabas berbahasa Spanyol, dan terakhir yang ditemukan di Turki. Manuskrip Injil Barnabas versi Spanyol hilang dari peredaran, namun sebagian teksnya muncul di transkrip pada abad ke-18. Munculnya Injil Barnabas di Turki yang ternyata berbahasa Aramaic menjadi penting karena bisa jadi inilah kitab yang lebih tua dari dua kitab sebelumnya. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki, Ertugrul Gunay, juga percaya kalau kitab Bernabas asal Turki ini adalah versi asli Injil Barnabas. Dari dua versi itu terungkaplah versi lain soal Yesus Kristus dan munculnya Islam serta Nabi Muhammad SAW. Itu mengapa Injil Barnabas disebut ajarannya lebih pararel dengan Islam. Dalam analisisnya, majalah Y-Jesus asal Amerika Serikat, menyatakan isi teks secara efektif menyangkal keilahian Yesus dan menolak konsep trinitas, kepercayaan kristen yang mendefinisikan Allah dalam tiga pribadi, Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Laporan itu juga menyatakan dalam teks, Yudas Iskariot disebut sebagai orang yang mati disalib dan bukan Yesus. Sementara dalam Perjanjian Baru, Yudas disebut mengkhianati Yesus. Perdebatan soal isi dua kitab Barnabas sebelumnya pun kembali marak setelah Injil Barnabas Turki muncul. Phil Lawler, editor Catholic World News (CWN), menyatakan, kitab Barnabas Turki dapat saja diterima. Namun, karena manuskrip itu belum diterjemahkan, tidak ada yang tahu persis apa isi dari kitab itu. Phil mengatakan, satu media Iran, Basij, melaporkan penemuan Kitab Barnabas Turki ini. Oleh Basij disebutkan, Injil Barnabas Turki ditulis pada abad ke-5 atau ke-6 Masehi. Phil membantah keras pendapat ini. Argumen yang dia ajukan adalah, Barnabas hidup bersamaan dengan Yesus Kristus dan termasuk 12 muridnya. “Ini pasti ditulis oleh seseorang yang mengaku mewakili Barnabas,” kata Phil, seperti dikutip Daily Mail. Ramalan tentang datangnya Nabi Muhammad SAW yang tertulis dalam kitab Barnabas sebelumnyna juga ia sangkal. Sebab, menurut Phil, aspek penanggalan manuskrip itu sangatl penting. "Jadi apa yang Turki miliki sekarang adalah sebuah dokumen tua, tetapi kami meragukan kitab yang saat ini diperdebatkan,” kata Phil. Teolog Turki, Omer Faruk Harman, mengatakan, untuk mengungkap berapa usia kitab Barnabas Turki itu perlu diadakan riset mendalam. “Scan ilmiah dari kitab mungkin satu-satunya cara untuk mengungkapkan berapa usia sebenarnya,” ujarnya kepada Todays Zaman. Analis terorisme dan pengamat Iran dari Christian Broadcasting Network, Erick Stakelbeck, mengatakan kemunculan Injil Barnabas Turki adalah akal-akalan Iran. Menurut dia, pemberitaan Injil Barnabas oleh media Iran, Basij adalah bentuk propaganda rezim Iran terhadap umat Kristen. *Kontributor Republika di Ankara, Turki

مرحلة الشباب

مرحلة الشباب أهم مرحلة في حياة الإنسان، وأغلى ثروة عند الأمة. ومرحلة الشباب هي مرحلة العطاء والعمل. والإنسان الذي لا يعطي في شبابه، قلما يعطي في بقية عمره. وكان كثير من أصحاب الرسول - صلى الله عليه وسلم - من الشباب، وقد ولاهم مسؤوليات كبيرة؛ حيث ولى كثيرا منهم قيادة الجيش، وفيه شيوخ المهاجرين والأنصار؛ فقد ولى زيد بن حارثة، وجعفر بن أبي طالب، وعبد الله بن أبي رواحة، قيادة الجيش في غزوة مؤتة، كما ولى أسامة بن زيد قيادة الجيش الإسلامي، لغزو الروم، وعمره ثماني عشرة سنة، وأرسل معاذ بن جبل قاضيا إلى اليمن، وهو في مرحلة الشباب. تحتاج الأمة إلى الشاب القوي الجاد، الذي يعطي أكثر مما يأخذ، ولا تحتاج إلى الشاب الكسلان، الذي يهتم بطعامه ومظهره فقط، ولا يحب العمل والعطاء. وكما تحتاج الأمة إلى قوة الشباب، تحتاج إلى خبرة الشيوخ، حتى تتقدم البلاد. وتخطئ الأمة إذا اعتمدت على قوة الشباب وحدهم، وأهملت خبرات الشيوخ. وهذا يعني أن تكون هناك علاقة طيبة بين جميع أفراد المجتمع، كبارا وصغارا، رجالا ونساء، حتى تصل الأمة إلى ما تريد. دول الشمال ودول الجنوب أصبح العالم – اليوم – قرية صغيرة، بسبب وسائل النقل الحديثة، ووسائل الاتصال الحديثة. كيف يعيش سكان هذه القرية الصغيرة؟ إنني أدعوك يا صاحبي لزيارة هذه القرية الصغيرة. هيا نتجول فيها، وننظر كيف يعيش سكانها. سأصحبك معي في طائرتي. إنني أملك طائرة سريعة، أسرع من الصوت. تفضل يا صاحبي، اركب الطائرة، وهيا بنا ننطلق. نحن نطير الآن فوق دول الشمال. انظر إلى هذه الدول، إنها دول غنية، نملك القوة والعلم والمال. انظر إلى الناس، إنهم أغنياء في هذه الدول، يلبسون أجمل الثياب، وهم أصحاء، ويعيشون في بيوت جميلة. ما أكثر المدارس والجامعات والمستشفيات والمصانع والمزارع هنا! إنهم يعيشون في أمن ورخاء. هيا نزور الجانب الآخر من العالم. هذه دول الجنوب. إنها دول فقيرة، لا تملك القوة ولا العلم ولا المال. انظر إلى هؤلاء الناس، إنهم فقراء يلبسون ثيابًا بسيطة، ويعيشون في بيوت صغيرة، ومعظمهم مرضى. ما أقل المدارس والجامعات والمستشفيات والمصانع والمزارع هنا! لماذا يتقاتل الناس في هذه البلاد؟ ولماذا ينتشر الفقر والمرض والجهل هنا؟ يا لها من حياة! هل رأيت يا صاحبي هذه القرية الصغيرة؟! يعيش نصف سكانها في رخاء، ويعيش النصف الآخر في فقر وحرب. لماذا لا يعيش جميع سكان القرية في رخاء وأمن؟ هل سيحدث ذلك في يوم من الأيام؟! الله أعلم. الدين يدعو للنظافة النظافة ضرورية في كل شيء، وقد حث الدين على نظافة أجسامنا، ونظافة المسكن الذي نأوي إليه، ونظافة المسجد الذي نصلي فيه، ونظافة المكان الذي نعمل فيه، ونظافة الملابس التي نرتديها. وقد جعل الله النظافة والطهارة شرطا لا تتم بعض العبادات إلا به؛ فالصلاة لا تقبل إلا بالطهارة. قال الله تعالى: (يا أيها الذين آمنوا إذا قمتم إلى الصلاة فاغسلوا وجوهكم وأيديكم إلى المرافق وامسحوا برءوسكم وأرجلكم إلى الكعبين وإن كنتم جنبا فالطهروا). ومن شروط الصلاة أيضا، طهارة المكان الذي نصلي فيه، وطهارة الملابس التي نرتديها. ولا يمس المصحف إلا بطهارة. قال الله تعالى: (إنه لقرآن كريم. في كتاب مكنون. لا يمسه إلا المطهرون). كان الرسول - صلى الله عليه وسلم - يحرص على أن يكون المسلم نظيفا في ملابسه، وجسده، وكان يحث على السواك؛ لأنه مطهرة للفم. يقول صلى الله عليه وسلم: (السواك مطهرة للفم، مرضاة للرب). ويقول: (لو لا أن أشق على أمتي - أو على الناس - لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة). وفي حث الرسول - صلى الله عليه وسلم - على السواك دعوة للنظافة، سواء بالسواك - وهو من شجرة الأراك غالبا أو من غيرها - أو غير، فكل ما يقوم مقام السواك مفيد، كالستعمال المعاجين الطبية، في تنظيف الفم والأسنان. وقد أثبت الطب الحديث، أن في السواك مادة مطهرة تحافظ على الأسنان وجمالها. عن جابر بن عبد الله - رضي الله عنه - قال: "أتانا رسول الله صلى عليه وسلم، فرأى رجلا شعثا، قد تفرق شعره، فقال: (أما كان يجد هذا ما يسكن شعره؟) ورأى رجلا آخر، وعليه ثياب وسخة، فقال: (أما كان هذا يجد ماء يغسل به ثوبه؟). وجاء الإسلام بسنن الفطرة، وفيها إزالة زوائد الجسم التي قد تجمع الأوساخ. قال الرسول - صلى الله عليه وسلم - : (خمس من الفطرة: الاستحداد، والختان، وقص الشارب، ونتف الإبط، وتقليم الأظافر) وبالاتزام بهذه السنن، يتخلص الإنسان من الأوساخ التي تجمعها غالبا هذه الأجزاء من الجسم، وفيها وقاية من بعض الأمراض التي تسببها هذه الأوساخ، وإزالة لمسببات الروائح الكريهة. والأسلام يدعو الناس إلى أن يحافظوا على نظافة الأماكن التي يعيشون فيها كالبيوت، وأماكن السكن، والمساجد، وأماكن العمل، والطرفات. فليس من الصحة، ولا من الذوق والأدب أن ترمى القمامة، وفضلات الطعام في الطريق، أو قريبا من المنازل؛ لأن في ذلك أذى للناس، وتلويثا للمكان الذي يعيشون فيه. وقد دعا الرسول - صلى الله عليه وسلم - إلى إزالة ما يؤذي الناس من الطريق. قال - صلى الله عليه وسلم - : (الإيمان بضع وسبعون ضعبة، فأفضلها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان). وليس من أدب الإسلام أن يقضي الشخص حاجته في الطريق، أو في الظل الذي يجلس فيه الناس، أو في الأماكن العامة نظافة البيئة النظافة نوعان؛ نظافة خاصة، ونظافة عامة. فالنظافة الخاصة نظافة جسم الإنسان وثوبه وطعامه وبيئته. أما النظافة العامة، فنظافة الأماكن العامة، كالشوارع والحدائق. وتقع مسؤولية النظافة الخاصة على الأفراد. أما مسؤولية النظافة العامة، فتقع على الأفراد والحكومات. يقاس تقدم الدول - اليوم - بالنظافة، فإذا كانت الدولة وسكانها يهتمون بالنظافة، فهي دولة متحضرة، وإذا كانت الدولة وسكانها لا يهتمون بالنظافة، فهي دولة متخلفة. وهناك دول مشهورة في العالم بالنظافة، وهي قليلة مثل ماليزيا وسنغافورة. وهناك دول أخرى مشهورة بالقذارة، وهي كثيرة. تنفق بعض الدول أموالا كثيرة على النظافة، ونشاهد - الآن - في كل مدينة عمال النظافة، يجوبون الشوارع، يحملون حاويات النظافة، ويضعونها في سارات خاصة، تحملها خارج المدينة؛ لتحرق. ويشارك المواطن الدولة الاهتمام بالنظافة، حيث يضع النفايات الخاصة ببيته، والتي يجدها في الشوارع والحدائق في الحاويات، وهذا ما دعا إليه الرسول - صلى الله عليه وسلم - في قوله: (إماطة الأذى عن الطريق صدقة). من مشكلات الشباب يواجه الشباب مشكلات كثيرة في هذا العصر، ومن ذلك مشكلة الغزو الثقافي، الذي يأتي في صور كثيرة، مثل: محاربة اللغة والثقافة، وفرض لغات وثقافات أجنبية محلها، كالدعوة التي نادت بترك اللغة العربية، واستعمال اللهجات المحلية، لتمزيق الأمة، وفصلها عن تراثها، أو كالدعوة إلى تدريس العلوم في الجامعات العربية باللغات الأجنبية. وقد تأثر بعض الشباب بهذه الدعوات، فأخذ يقلد أصحاب اللغات والثقافات الأجنبية في كلامهم، وسلوكهم. يشعر الشباب - أحيانا - بالتناقض بين ما تعلمه في بيته ومدرسته ومجتمعه من أخلاق، وبين ما يبث في وسائل الإعلام من أخلاق تخالف أخلاق مجتمعه ودينه. وكثيرا ما تنجح تلك الوسائل في التأثير في بعض الشباب، ولعل هذا سبب انتشار المخدرات والجريمة بصورها المختلفة في بعض المجتمعات. يشكو الشباب من أن المجتمع، لا يهتم بهم كثيرا، ويقولون إن فرص التعليم العالي أصبحت قليلة، وإن الشاب بعد أن يتخرج في الجامعة، لا يجد العمل الناسب، ويرى أن الزواج يكلف كثيرا من المال. ولا شك أن الشباب على حق في كثير مما يقولون. وعلى المجتمع أن يعمل على حل مشكلات الشباب؛ حتى يشاركوا في عملية البناء.